MODEL PEMBELAJARAN SI DIA BERBANTUAN CERITA BERGAMBAR SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN BUDAYA BACA BAGI SISWA DI SEKOLAH DASAR

October 14, 2017
MODEL PEMBELAJARAN SI DIA BERBANTUAN CERITA BERGAMBAR SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN BUDAYA BACA
BAGI SISWA DI SEKOLAH DASAR*)

Abstrak

Model pembelajaran Si DIA berbantuan cerita bergambar merupakan modifikasi dan kombinasi dari tahap pembiasaan dan pengembangan kegiatan literasi di sekolah dasar.  Perpaduan tahapan ini bertujuan untuk meningkatkan budaya baca siswa, khususnya di sekolah dasar. Implementasi model ini dengan berbantuan buku cerita bergambar sangat tepat karena  buku cerita bergambar mengandung suatu ajaran moral dan menggugah minat siswa untuk membaca. Tahapan model Si Dia meliputi: 1) Siapkan. Guru harus menyiapkan perpustakaan kelas dan buku cerita bergambar. 2) Dampingi. Kegiatan pendampingan bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan. 3) Ilustrasikan. Kegiatan ini berupa membuat ilustrasi cerita dalam bentuk gambar. 4) Apresiasi, hasil karya siswa dipajang di papan pajangan. Model pembelajaran Si DIA berimplikasi terhadap penciptaan pembiasaan belajar terstruktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan budaya baca.

Kata kunci: model pembelajaran, cerita bergambar, budaya baca


A.    PENDAHULUAN
Membaca menjadi bagian penting dalam pembelajaran di sekolah. Membaca juga melatih tingkat pemahaman terhadap isi bacaan. Dikaitkan dengan taksonomi Bloom (Thoha, 2003), pemahaman (understanding) merupakan tingkatan ranah kognitif yang berada di atas ingatan (remembering). Berkenaan dengan keterampilan membaca, hasil penelitian oleh PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) tahun 2011, Indonesia berada pada peringkat ke-45 dari 48 negara peserta. Data ini menunjukkan bahwa kompetensi peserta didik Indonesia tergolong rendah khusunya pada keterampilan membaca (Faizah, dkk: 2016).
Keterampilan membaca erat kaitannya dengan gerakan literasi. Gerakan Literasi Nasional yang digagas dan dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah merupakan kepedulian atas rendahnya kompetensi peserta didik Indonesia dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Gerakan membaca ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan membaca kepada siswa dan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus merancang imajinasi.
Pelaksanaan gerakan literasi di SD Negeri 14 Pemecutan telah mulai dikembangkan sejak tahun 2016. Membaca 15 menit dilaksanakan di kelas masing-masing. Khusus di kelas tinggi, telah disediakan sarana berupa perpustakaan kelas. Setiap pagi sebelum waktu belajar dimulai, siswa dibiasakan untuk membaca buku nonpelajaran yang telah dsediakan. Kegiatan membaca dimulai pada pukul 07.30-07.45 wita setelah siswa melaksanakan kegiatan persembahyangan bersama.
Berdasarkan pengamatan penulis selaku wali kelas V, antusias awal siswa sangat tinggi. Waktu 15 menit terlewati dengan cepat.  Namun, keadaan yang penulis amati ternyata tidak sesuai harapan saat penulis melakukan wawancara terhadap siswa secara acak. Pertanyaan yang diajukan yaitu: 1) Apa judul buku yang dibaca? 2) Siapa saja tokoh yang terdapat pada bacaan? 3) Dapatkah kamu menceritakan isi bacaan? Jawaban yang diberikan siswa ternyata beragam. Untuk judul cerita, semua siswa mampu menjawab dengan benar. Namun berbeda dengan tokoh maupun isi cerita, banyak siswa belum mampu menggambarkan tokoh cerita dengan benar, menyatakan belum mampu menceritakan kembali isi bacaan yang pernah dibaca. Alasan utamanya adalah lupa.
Melihat kondisi secara mikro di kelas V, keberhasilan peserta didik dalam menguasai keterampilan memahami bacaan tidak lepas dari faktor guru. Disadari bahwa ketika melaksakan kegiatan membaca selama limabelas menit, guru hanya menyediakan bahan bacaan, mendampingi siswa membaca, dan tanpa memberikan tidak lanjut langsung setelah siswa membaca. Tidak lanjut dilakukan pada akhir pekan. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa peran guru harus lebih optimal dalam mendampingi siswa membaca. Membaca memang belum menjadi budaya di sekolah. Untuk itu, perlu dibiasakan dengan menciptakan kondisi belajar yang menyenangkan dan disertai dengan tindak lanjut. Mengatasi kelemahan yang terjadi maka penulis melakukan upaya perbaikan dengan menerapkan model pembelajaran Si DIA untuk meningkatkan kecakapan literasi khususnya bagi siswa kelas VA SD Negeri 14 Pemecutan. Lantas, upaya apakah yang dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan budaya baca di sekolah?


B.    PEMBAHASAN
Literasi sekolah berkenaan dengan kemampuan bagaimana membaca, menulis, dan melakukan perhitungan numerik dan mengoperasikan sehingga setiap siswa dapat menggunakan keterampilan ini sebagai kecakapan hidup di masa mendatang. Pelaksanaan GLS harus dilaksanakan secara menyeluruh guna menciptakan warga sekolah yang literat sepanjang hayat. Pelaksanaan GLS harus melibatkan partisipasi publik seperti peran guru, kepala sekolah, siswa, petugas perpustakaan, tenaga administrasi, bahkan unsur orang tua siswa.

Model Pembelajaran Si DIA
Perkembangan proses belajar di kelas saat ini tidak harus dalam bentuk individual klasikal, kegiatan berkelompok (kooperatif learning), namun dapat pula dengan mengkolaborasi kegiatan sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
Berdasarkan kenyataan di SD Negeri 14 Pemecutan, penulis selaku guru kelas V mencoba mengkombinasi tahapan pelaksanaan GLS kedalam model pembelajaran Si DIA. Model pembelajaran Si DIA merupakan akronim dari Siapkan, Dampingi, Ilustrasikan, dan Apresiasi. Tahapan pelaksanaan GLS yang dikombinasikan adalah pada tahap pembiasaan dan tahap pengembangan.

Langkah-langkah Pelaksanaan  Model Pembelajaran Si Dia

Pertama, Siapkan. Guru harus menyiapkan perpustakaan kelas dan buku cerita bergambar. Pada pertemuan ini, buku yang dipilih antara lain: cerita fabel, cerita bergambar, dan buku fiksi



Gambar 1. Perpustakaan Kelas




Kedua, Dampingi. Guru membentuk kelas menjadi kelompok belajar.Tiap kelompok terdiri atas 4 orang yang heterogen. Tiap kelompok membentuk ketua kelompok. Kelompok memilih buku cerita bergambar untuk dibaca. Kegiatan pendampingan kelompok bertujuan membantu siswa untk memahami pertanyaan dan cara menyelesaikan.


















Gambar 2.  Siswa membaca bersama kelompok
 
Ketiga, Ilustrasikan. Kegiatan mengilustrasikan berupa guru meminta siswa menyelesaikan daftar pertanyaaan yang memuat judul buku, nama tokoh, alur cerita, isi cerita, dan amanat yang disampaikan. Siswa mengerjakan bersama kelompoknya. Ilustrasi dibuat dalam bentuk gambar.



   Gambar 3. Bersama kelompok, siswa menyelesaikantugas sesuai petunjuk

Keempat, Apresiasi. Kegiatan apresiasi dilaksanakan pada akhir pekan. Bentuk apresiasi yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan hasil kerja kelompok kepada seluruh siswa. guru memfasilitasi siswa terhadap tanggapan yang diberikan oleh kelompok lain. Tanggapan tersebut dirangkum, untuk kemudian dijadikan acuan perbaikan. Hasil karya siswa yang telah diperbaiki kemudian dipajang di papan pajangan.












Gambar 4. Hasil karya siswa bersama kelompok




Hasil Implementasi Model Pembelajaran Si DIA
Berdasarkan observasi lapangan selama implementasi model pembelajaran Si Dia berbantuan buku cerita bergambar dapat dipaparkan hal sebagai berkut.
Pada tahap “Siapkan” pada model pembelajaran Si DIA menuntut kesiapan guru menyediakan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan GLS di kelas. Pemilihan buku cerita fiksi bergambar.,karena dilihat dari sudut pandang anak-anak umumnya dikaitkan dengan ajaran moral.
Hal tersebut dijelaskan oleh Wahyono (2015) bahwa cerita fiksi pada hakikatnya mengandung suatu ajaran moral dan di situlah letak moral utama ceritanya bahwa tokoh yang tidak baik mesti dikalahkan dengan tokoh yang baik. Kondisi tersebut harus disampaikan dengan sangat hati-hati kepada anak agar pola pikir anak tentang hal baik dan tidak baik mulai terbuka sehingga dalam kehidupan nyata anak dapat membedakan hal yang baik dan tidak baik.
Kemudian, tahap “Dampingi” siswa selama proses GLS membantu siswa untuk memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas sesuai petunjuk. Mendampingi siswa merupakan bentuk fasilitasi guru terhadap penciptaan kondisi belajar yang menyenangkan. Pada tahap “Ilustrasikan”, muncul respon positif siswa untuk “menggambar”. Sukarya (2010) menyatakan bahwa menggambar membelajarkan siswa untuk mencurahkan isi hatinya dalam bentuk karya seni rupa. Sehingga, menggambar merupakan kegiatan yang menyenangkan.
Pada tahap “Apresiasi”, adanya reinforcement juga berkontribusi terhadap peningkatan kecakapan literasi. Penguatan dalam pembelajaran adalah salah satu bentuk apresiasi terhadap kemampuan yang dimiliki siswa. Adanya reinforcement yang diberikan guru berupa tepuk tangan dan hadiah menjadi motivasi bagi siswa untuk berkarya, menjawab, dan mengajukan pertanyaan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Motivasi menjadikan siswa aktif dalam menggali pemahamannya terhadap materi yang dipelajari. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas dan mengoptimalkan aktivitas membaca.
Pendapat ini didukung oleh Sukadi (2005) yang menyatakan bahwa guru dapat dan harus berperan sebagai koordinator, fasilitator, dan motivator bagi upaya belajar siswa dalam menggunakan berbagai sumber belajar. Untuk itu, berbagai bentuk motivasi, seperti pemberian hadiah dan tepuk tangan memungkinkan siswa untuk semakin aktif mengembangkan konsep-konsep agar dapat dipamahi dengan baik. Ini berarti, pemberian reinforcement penting pula dalam pelaksanaan kegiatan membaca di sekolah.

C.    PENUTUP
Budaya literasi dilakukan sebagai upaya untuk membudayakan pemahaman ilmu pengetahuan dalam ranah pembelajaran. Pembiasaan yang dimaksud adalah kegiatan GLS dilaksanakan setiap hari selama 15 menit sebelum materi pelajaran di mulai. Pembiasaan belajar perlu dikembangkan utuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pembentukan belajar yang efektif memerlukan tugas-tugas yang jelas dan terstruktur. Apabila setelah siswa selesai membaca, tanpa disertai dengan tindak lanjut yang tepat maka hasil belajar siswa kurang optimal. Pembiasan belajar yang baik harus didukung oleh tugas-tugas yang jelas. Kebiasaan seseorang dalam belajar terbentuk dari kebiasaan belajar mandiri di rumah maupun di sekolah. Membaca dan membuat catatan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam proses belajar, karena kegiatan yang paling sering dilakukan dalam belajar adalah membaca.
Model pembelajaran Si DIA berimplikasi terhadap penciptaan pembiasaan belajar yang terstruktur, membentuk suasana kondusif yang mengarah pada peningkatan budaya baca. Sehingga, dengan adanya kondisi yang kondusif, niscaya membaca akan menjadi sebuah budaya. Semoga!


DAFTAR PUSTAKA

Faizah, dkk. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikdasmen Kemdikbud.

Sukadi. 2005. Pendidikan IPS yang Powerful Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran No. 4 TH. XXXVIII Oktober  2005 ISSN 0215-8250. Singaraja: IKIP Negeri  Singaraja.

Thoha, M.C. 2003. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Wahyono, T. 2015. Pengaruh Menyimak Cerita terhadap Kemampuan Bercerita Fiksi pada Anak. Makalah Seminar Nasional Pendidikan Bahasa Indonesia 2015 ISSN: 2477636X  hal.117:Universitas Muhammadiyah Yogyakarta




*) oleh Erry Trisna Nurhayana, S.Pd
artikel disajikan untuk lomba Penulisan Artikel Ilmiah Tahun 2017

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »