Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Pengembangan Karakter Anak

July 18, 2017 Add Comment
Budayakan berinteraksi sosial sejak dini
SMARTPHONE DAN PERAN ORANGTUA DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER

"Beberapa hari ini, dunia pendidikan kembali dihebohkan dengan viralnya video siswi SMP yang melakukan kekerasan dan perundungan terhadap seorang siswi SD di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta. Tidak hanya siswa SMP, kasus perundungan pun terjadi di tingkat universitas. Seperti halnya, kasus yang menimpa seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di kampus Universitas Gunadarma".

"Bercermin dari 2 kasus tersebut, kita dapat melihat bahwa generasi pendidikan kita saat ini mengalami degradasi moral. Memang benar, kita tidak boleh menggeneralisasi semua insan. Namun, sebagai generasi muda penerus bangsa memang sepatutnya memiliki karakter yang baik. Lantas, bagaimana meningkatkan karakter anak?"

"Di kalangan dunia pendidikan, penumbuhan karakter masih jauh dari harapan. Karakter menjadi isu hangat dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Bahkan masalah karakter menjadi agenda Nawacita pemerintahan Presiden republik Indonesia, Joko Widodo. Dalam butir Nawacita dijabarkan bahwa pemerintah saat ini ingin memperkuat pendidikan karakter melalui gerakan nasional revolsi mental pada setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Merupakan tugas berat bagi pelaku pendidikan untuk menanamkan pendidikan karakter pada peserta didik. Pendidik harus menyadari bahwa pendidikan karakter dapat dijadikan sarana pembentukan perilaku dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif. Dengan lingkungan yang kondusif,dapat membantu pengembangan diri siswa secara intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis, dan religius".

"Membangun karakter bukanlah hal yang instan. Artinya, tidak dapat dapat langsung dirasakan sesaat setelah pendidikan tersebut diberikan. Pendidikan membangun karakter merupakan proses panjang yang harus dimulai sejak dini pada anak-anak dan baru akan dirasakan setelah anak-anak tersebut tumbuh menjadi dewasa. Penanaman pondasi karakter harus ditanamkan sejak usia sekolah dasar. Pada usia ini, kecenderungan siswa adalah fase bermain. pendidikan di sekolah dasar diharapkan tidak hanya menekankan aspek kognitif saja, melainkan mampu mengembangkan afektif dan psikomotorik siswa".

"Ternyata, penanaman karakter tidak dapat dilakukan sepihak dalam tatanan dunia pendidikan formal. Peran pendidikan keluarga (orang tua) memberi pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan mental anak. Dilihat dari sisi ketersediaan waktu, orang tua memiliki cukup waktu dalam mengasuh anaknya. Anak-anak kita saat ini berada pada era digital. Mereka dapat dengan mudah memperoleh informasi dari dunia internet. Bahkan, tanpa menutup mata interaksi yang mereka lakukan justru lebih banyak dihabiskan dalam jaringan dunia maya. Apakah anak-anak saja?" 

"Beberapa kejadian di lapangan, penulis mengamati tidak jarang orang tua yang justru merasa senang ketika anak-anak mereka nyaman melakukan interaksi dengan internet. Sebagai contoh, seorang ibu yang memberikan smartphone, saat anak tersebut menangis. Sementara, sang ibu pun asyik bersosial media. Banyak pula anak-anak seusia 1 tahun-3 tahun sudah aktif bermain smartphone, dan menangis ketika smartphone tersebut diambil. Perhatikan kembali kasus di Thamrin City, berdasarkan keterangan pelaku tindakan kekerasan dan perundungan terjadi karena korban menulis komentar di facebook yang mengatakan bahwa pelaku adalah seorang anak yang cengeng. Artinya, anak-anak ini sudah menjadi pengguna aktif sosial media. Sosial media menjadi produk yang selalu terinstal pada smartphone. Dengan sosial media sangat memudahkan bagi mereka menemukan bermacam informasi, baik positif maupun negatif. Apakah ini salah smartphone atau perkembangan teknologi?" 

"Kita tidak bisa menyalahkan teknologi, percepatan arus informasi, atau konten-konten yang tersedia dari sosial media. Justru, disinilah peran orang tua sebagai filter utama di dalam lingkungan keluarga sangat diperlukan. Dikutip dari kisah Bill Gates, dia justru melarang anak-naknya untuk membawa ponsel hingga umur 14 tahun. Sejalan dengan ini, Steve Jobs juga menyatakan bahwa dia melarang anak-anaknya untuk menggunakan teknologi terbaru. Sebagai orang yang ahli dalam teknologi, mereka meyakini ada dampak negatif yang diberikan jika kita tidak dapat dengan bijak memanfaatkan teknologi dalam kehidupan. Lantas, bagaimana menyikapi pemanfaatan smartphone?

Penulis meyakini bahwa orang tua adalah pribadi yang bijak, menjadi tauladan bagi anak-anaknya. Bijak dalam artian orang tua dapat membatasi screen time, dan membatasi fungsi mesin penjelajah. Pengaturan akun penjelajah seperti Google perlu dilakukan orang tua agar anak tidak dapat mengakses konten-konten yang mengandung unsur kekerasan. Viralnya kasus perundungan tidak terlepas dangan tingkat keaktifan seseorang dalam melakukan pencarian pada mesin penjelajah. Seperti halnya rentang waktu 17.00-22.00 merupakan waktu yang penting untuk kumpul bersama anggota keluarga. Rentang waktu ini dapat kita manfaatkan dengan membatasi penggunaan smartphone. sederhana lain misalnya, tidak membawa handphone saat makan, dan mengatur jadwal anak dalam menonton televisi. Jadi, biarkanlah anak-anak tumbuh normal tanpa tergantung secara signifikan oleh keberadaan smartphone. Ajak mereka lebih sering berinteraksi dengan lingkungannya yang nyata. Ciptakan dan buatlah kondisi layaknya mereka (anak-anak) berada pada situasi saat oarang tua (anda) menjadi anak-anak seusianya. Kondisi dimana anak lebih menghabiskan waktu bermain dengan anak-anak yaang seumuran. Bermain permainan tradisional maupun modern yang melibatkan peran sosial kelompok, bukan permainan yang dapat dilakukan secara individu. Sementara itu, bagi orang tua yang terbiasa memberikan handphone pada anaknya yang menangis, maka perlahan-lahan hentikanlah. Biarkan anak mengalami proses (menangis), agar tidak menjadi pribadi yang harus terpenuhi segala keinginannya (manja). Didiklah anak menjadi pribadi yang tangguh. Semoga, sikap bijak orang tua dalam memanfaatkan teknologi akan melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, kuat dan berkarakter."


Artikel ini termuat pada gurusiana.id

Bagaimana Cara menjawab soal CAT

July 13, 2017 Add Comment
Klik Gambar
untuk latihan soal CPNS terbaru

Saat ini mulai marak berita tentang Penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) atau sekarang dikenal sebagai Calon Aparatur Sipil Negara (CASN). Lolos ujian CPNS adalah tujuan setiap pelamar. Saat ini, info lowongan CPNS telah dibuka oleh beberapa instansi. Info lowongan CPNS terbaru ada di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. 

Ujian tes CPNS umumnya digelar dalam bentuk CAT (Computer Assisted Test). Sistem CAT merupakan terobosan baru untuk memperoleh hasil yang akurat untuk menentukan kualitas hasil lulusan pelamar CPNS. Dengan model CAT, profesionalisme CPNS dapat dipercaya dan dijamin standar kelulusannya dalam tes kompetensi dasar. Lantas, bagaimana cara lolos tes CPNS?

Lolos passing grade dalam tes TKD menjadi dasar kelulusan ke tahap selanjutnya pada tes CPNS. Menembuus passing grade diperlukan usaha yang maksimal bagi calon pelamar. Jika calon pelamar hanya mengandalakan keberuntungan, nampaknya itu kurang tepat. 

Yakinkan diri Anda untuk lolos CPNS dengan MURNI!

Saat ini, dengan transparansi penerimaan CPNS dengan sistem CAT, para pelamar telah mempersiapkan diri dengan matang. Banyak pelamar telah mempersiapkan diri dengan mempelajari soal-soal TKD yang banyak tersebar di situs online. Selain mempelajari soal, pelamar perlu menguasai beberapa teknik belajar agar lulus tes TKD CPNS. Berikut beberapa paparan yang dapat admin berikan.

Pertama, temukan situs online tyang menyediakan tes CPNS secara online. Perhatikan, ONLINE. Ditekankan pada situs online cpns, karena tes CAT berbasisi komputer. Sehingga, pelamar harsu siap membaca soal di komputer dalam jangka waktu yang cukup lama. Seperti pengalaman sebelumnya, tes TKD terdiri dari 100 soal yang harus dikerjakan dalam waktu 120 menit. Dengan latihan membaca di komputer (sangat disarankan PC/Laptop) mengingat yang digunakan menampilkan tes CPNS adalah perangkat komputer PC/Laptop. [ soal CPNS ]

Kedua, latihanlah dengan teratur dengan waktu yang tepat dan konsisten. Tepat artinya latihanlah secara konsisten di waktu yang sama. Biasanya pendaftaran CPNS telah dilakukan sekitar satu bulan sebelum waktu ujian. Dalam selang waktu sebulan, biasakanlah mengambil waktu yang “kira-kira " sama dengan waktu tes peserta saat ujian CAT yang sebenarnya. Mengapa waktu harus konsisten? Tujuannya melatih kemampuan mata beradapatsi dan membiasakan otak untuk bekerja pada waktu-waktu tersebut. Lantas,bagaimana jika waktu ujian tidak diketahui? Intinya, latihlah mata dan otak untuk bekerja di depan layar komputer secara teratur. Niscaya, koordinasi yang baik anatara mata dan otak dapat membantu anda dalam mengerjakan tes CPNS.

Ketiga, hindari sistem belajar semalam. Sebaiknya gunakan sistem blok. Artinya, materi Tes Kemampuan Dasar telah dibagi menjadi beberapa bagian soal antara lain Tes Wawasan Kebangsaan, Tes Kepribadian, Tes Intelegensi Umum. Pelajarailah blok blok tes tersebut secara rutin. Anda dapat mengkombinasi soal latihan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kejenuhan anda sendiri. Soal TWK berkaitan dengan muatan materi kewarganegaraan, tes kepribadian lebih berkaitan dengan loyaitas, personal peserta terhadap instansi, dan tes intelegensi umum berkaitan dengan kemampuan peserta tentang logika, padanan kata, dan lebih dengan dengan tes IQ.

Keempat, mendekati jadwal ujian sebaikanya tempo membaca soal mulai dikurangi. Buatlah pikiran anda lebih rileks (bukan malas-malasan). Terlebih lagi sehari menjelang ujian, hindari belajar sampai larur malam, apalagi dini hari. Bagaimanapun juga, tubuh dan pikiran harus dalam kondisi fit saat ujian. Jangan sampai, ambisi mengausasi materi malah menurunkan kualitas daya tahan tubuh saat ujian. Ingat, tekanan pikiran saat ujian jauh lebih besar daripada saat latihan. Sehingga, tubuh anda harus dalam kondisi fit.

Kelima, sebagai umat beragama, berdoa dan berserahlah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penulis tekankan adalah berserah hasilnya kepadaNYA. Pastikan bahwa ketika anda berserah, anda telah bekerja secara optimal. 

Demikian beberapa informasi yang merupakan rangkuman pengalaman penulis selama mengikuti tes CPNS. Sebagi pelamar, anda harus memiliki kesiapan mental, “berhasil” atau “gagal” adalah bagian dari kompetisi. Harapan kita tentu agar lulus ujian CPNS. Namun ingat, setiap lowongan CPNS dibatasi oelh kuota peneriaman CPNS. Jika berhasil, tetaplah menjaga motivasi dan semangatmu ketika meraih CPNS dengan menjadi apartur negara yang siap melayani masyarakat. Dan, Jika Gagal, tetaplah mencoba lagi dan introspeksi diri dari kelemahan belajar yang telah dipersiapkan selama ini. Kemablilah memperlajari tes–tes online. Banyak situs yang dapat kalian pilih. Selamat mengikuti seleksi CPNS!


Apresiasi Puisi

July 11, 2017 Add Comment


Puisi diciptakan sebagai karya sastra yang dapat mencerminkan kisah nyata, konflik sosial,maupun bentuk imajinasi penulis. Kini banyak puisi dikumpulkan menjadi sebuah buku. Seperti halnya, kumpulan puisi karya Ibu Ida Ernawati dalam buku "Merenda Asa dalam Jalinan Kata". Buku yang bersampul biru dengan bunga di bagian bawah sebelah kiri, tampak sederhana, namun elegan dan sangat bersahaja.
Sampul Kumpulan Puisi
Merenda Asa dalam Jalinan Kata

Merenda Asa dalam Jalinan Kata”, membaca judul ini, yang tersirat di pikiran adalah rangkaian beberapa kata dalam bentuk puisi yang merupakan jelmaan sebuah asa dari dalam diri sang penyair. Ketika membacanya tergambar jelas serba-serbi kehidupan dalam kaca mata seorang penyair. Beliau sangat tajam dalam memandang dunia dari segala sisi. Ada cinta dengan air matanya, ada kebangkitan dari sebuah keterpurukan, ada persekongkolan untuk sebuah penyimpangan, dan lain-lain. 

Mari sejenak kita membaca deret suku kata dan kata dalam puisi berjudul Tata Sama Rara dan TPP N PPT, berikut ini!



Membaca kedua puisi karya Ida Ernawati, mengingatkan saya tentang realita hidup manusia dalam menjalani kehidupannya. Sebut saja puisi yang berjudul“ Tata Sama Rara dan TPP n PPT” di atas, keduanya berbincang mesra tentang hingar bingar gemerlap dunia. Kesepakatan yang telah terjalin menggeser makna positif dari pinsip “keadilan”. Tata Sama Rara asyik bercengkrama dalam bingkai bagi-bagi kekuasaan akibat mata yang sudah terpukau oleh pesona pundi-pundi. Entah itu pundi kekuasaan, harta, dan kemashyuran. Tata Sama Rara menikmati kebersamaan hingga akhirnya pundi-pundi mulai terkuak asal muasalnya. Lagi-lagi, Tata Sama Rara memulai persekongkolan seakan-akan mereka mempunyai pembenaran.

Lebih jauh tentang puisi berjudul “TPP dan PPT”, tergambar di situ sebuah situasi betapa dunia telah menuntun kita pada pundi-pundi yang telah membuat kita terpesona. Kita pun lupa jika hidup tak sebatas memperebutkan atau menumpuk pundi-pundi. Hakikat hidup bukan itu. Hakikat hidup adalah menjalankan segala titahNya dan menjauhi segala laranganNya. TPP yang merupakan kependekan dari Terpesona Pundi-pundi, Teriak pundi-pundi, sedang PPT kepanjangannya adalah Pundi-pundi Terlarang, Pundi-pundi Terkuak, sungguh tak disangka judul yang sederhana namun menyiratkan kedalaman makna. TPP dan PPT tersaji secara bergantian dalam bait per bait seolah mengalir begitu saja.
Bersama Bupati Banyuwangi
Begitu pula pada puisi “Tata sama Rara”, judul ini mengingatkan saya pada pada puisi angkatan 1970an yang berjudul “Tragedi Sihka dan Winka” karya Sutardji Calzoum Bahri. Sepintas judul Tata sama Rara seperti nama dua orang remaja yang sedang kasmaran atau bagaimana, namun setelah saya membacanya ternyata bukan begitu. Wouw... saya terkesima dibuatnya. Sama dengan Tragedi Sihka dan Winka, Tata sama Rara hanya terdiri-dari empat suku kata namun juga bisa membentuk delapan suku kata, yakni tata(menjadi tahu sama tahu), rara(menjadi rata sama rasa). Adapun makna yang terkandung dalam puisi tersebut adalah sebuah persekongkolan untuk sebuah penyimpangan.
Ibu Ida Ernawati,
Juara II Tingkat Provinsi Jawa Timur 2016
Guru Prestasi Bidang Kreativitas Pembelajaran Guru  SMALB
Kumpulan puisi Ida Ernawati secara sadar mengingatkan pembaca terhadap laku hidup. Diksi sederhana namun bermakna mampu bercengkrama indah dalam balutan rima lewat bunyi persajakan akhir yang saling melengkapi. Sehingga, pemilihan diksi, rima sangat sesuai dengan keragaman kalangan pembaca . Puisi yang telah saya gambarkan tadi adalah dua dari tiga puluh tujuh kisah kehidupan dunia masa lalu, kini, dan bahkan nanti. Di akhir tulisan ini, saya sampaikan selamat berkarya buat Ibu Ida Ernawati, sosok guru kreatif di bidang sastra yang pernah saya temui ketika kami bersama-sama memenuhi undangan sepuluh besar penulis terbaik pada Sayembara Penulisan Karya Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan di Badan Bahasa Kemdikbud 2016. Tetaplah bercerita tentang kehidupan dunia dalam bingkai karya, PUISI. Salam.


Denpasar, 11 Juli 2017

Erry Trisna Nurhayana

Siswa di Tahun Ajaran baru

July 08, 2017 Add Comment

Esok, Senin 10 Juli 2017 sebagai hari pertama sekolah, khususnya di Bali. Memang beberapa daerah di Indonesia memulai Tahun Ajaran 2017/2018 pekan depan (10 Juli 2017). Hari pertama sekolah selalu menjadi hal yang ditunggu bagi kebanyakan siswa baru. Entah itu bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menegah atas. Nampaknya, untuk tingkat SMP dan SMP euforia mengawali diri menjadi siswa di tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak begitu menegangkan. Mereka tidak lagi diantar oleh orangtua hingga ke kelas dan mendapatkan tempat duduk.

Berbeda bagi mereka yang masuk menjadi siswa PAUD ataupun SD. Mengantar anak di hari pertama sekolah pernah digalakkan kembali tahun sebelumnya. Pada kenyataannya, memang benar di hari pertama, sekolah selalu ramai pengenjung. Tak jarang, seorang anak PAUD diantar oleh kedua orang tuanya, mungkin saja oleh kakek/neneknya. Anak-anak usia 4-5 tahun ini mengenakan pakaian yang berwarna cerah, mengenakan topi, baju rompi, memakai cela (laki-laki)/ rok (perempuan), sepatu warna, kaos kaki putih bergambar, dan tidak lupa sebuah tas bergambar kesukaan sang buah hati menghiasi punggung. Anak-anak yang sudah siap sekolah tidak sabar berlari menuju kelasnya. Diraih tangan orangtuanya yang mengisyaratkan “Ayo, cepatlah,”. 

Namun, tak jarang ada pula orang tua harus merayu anaknya yang “ketakutan” memasuki halaman sekolah. Nah, bagi orang tua yang mengalami kondisi ini, sang guru pun tidak bisa tinggal diam. Guru yang melihat biasanya segera mendatangi anak dan menceritakan bahwa di sekolah, sang anak akan diajak bernyanyi, bermain perosotan, ayunan, dan tentunya diberikan makanan/minuman kesukaan. “Tidak ada kegiatan belajar”, seolah-olah seperti itu. Bayangkan saja wajah ibu/bapak guru saat membujuk sang anak tersebut. Saya yakin, beliau akan menebar senyum-senyum mungil. Membujuk anak seperti ini merupakan ajang nyata bagi guru menunjukkan kemampuan profesionalnya.

Bagaimana di Sekolah Dasar? 

Dari segi usia, siswa kelas 1 SD berada pada umur 6-7 tahun. Fase ini anak-anak masih suka bermain. Hal yang nampaknya serupa dengan di PAUD bisa saja terjadi di sekolah dasar. Karena, tidak semua siswa kelas 1 baru pernah mengenyam pendidikan anak usia dini. Mungkin saja karena berbagi faktor, ornag tua langsung menyekolahkan sang bah hati ke SD. Apakah salah? Tentunya tidak, karena program wajib belajar dimulai dari pendidikan dasar, yaitu SD dan SMP. Bahkan, beberapa waktu lalu telah dicanangkan program wajib belajar 12 tahun, artinya anak-anak di Inonesia wajib mengenyam pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.
Suasana di depan  ruang kelas 1
Hari pertama sekolah, bisa saja menjadi hari yang cukup memacu adrenalin bagi guru kelas 1 apalagi jika sang guru belum “kaya” pengalaman, kesabaran, dan cerita. Menjadi guru di kelas 1 membutuhkan tenaga ekstra. Karena itu, mengajar bertim (team teaching) cocok diterapkan. Di pagi-pagi buta saat gerbang sekolah dibuka, ada orang tua akan bergegas ikut masuk ke ruang kelas untuk memilih tempat duduk yang strategis dan cocok untuk anaknya.
team teaching
Mungkin ada kesan posisi kursi menentukan prestasi. Jika hal ini terjadi, guru di sekolah tersebut mendapat tugas tambahan lagi. Guru wajib memberikan pemahaman bahwa posisi kursi tidak selalu menentukan prestasi. Tentunya, guru harus menjamin bahwa dia mampu memberikan perhatian penuh terhadap seluruh siswanya di kelas. Saat perkenalan kelas dimulai, masih nampak dongakkan kepala orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka di kelas. Beberapa isyarat tangan, anggukkan kepala dikirim orangtua kepada anaknya agar memperhatikan sang guru. Itukah yang terjadi? Ini adalah sebuah opini saja. Bagaimanapun itu, ayo saling meyakini bahwa pemerintah merancang sistem yang membawa pendidikan kearah lebih baik. Semoga!


by
admin www.blajarblajar.com

Membangun Kecerdasan Emosional dengan Kesenian

July 08, 2017 Add Comment


oleh

Erry Trisna Nurhayana

Pendidikan berperan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari sisi pendidikan formal, tugas ini dipegang oleh guru. Keberadaan guru dalam dunia pendidikan menjadi ujung tombak keberhasilan pencapaian tujuan nasional. Biasanya, guru dikatakan berhasil mendiidk jika siswa nya pandai dari sisi akademik. Namun, hal itu sudah tidaklah tepat. Saat ini, justru guru dihadapkan pada situasi untuk mengembangkan pendidikan yang mengutamakan karakter. Karena, tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang seutuhnya, tidak hanya cerdas dari segi akademik, melainkan cerdas emosi, dan berakhlak mulia.

Penulis meyakini bahwa kebanyakan orang sudah mengetahui bahwa setiap siswa memiliki potensi kecerdasan berbeda, namun tidak jarang pendidikan kita saat ini masih bersifat parsial yang lebih menekankan pada kecerdasan kognitif. Dari kondisi inilah konsep mengutamakan Intelectual Quotient (IQ) menjadi prioritas secara tak langsung memandang bahwa pendidikan berbasis Emotional Quotient (EQ) bukanlah hal yang penting. Padahal, pendidikan berbasis EQ berdampak positif bagi perkembangan mental dan fisik anak. Lantas, bagaimana cara membangun kecerdasan emosional pada siswa?

Di sekolah dasar, pendidikan berbasis EQ dapat dikembankan melalui pendidikan seni (di sekolah dikenal dengan muatan Seni Budaya dan Keterampilan). Muatan Seni Budaya dan Keterampilan di sekolah mencakup: 1) Seni rupa, menghasilkan karya seni berupa gambar, lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak.2) Seni musik, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vokal, memainkan lat musik, apresiasi karya musik. 3) Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan dan tanpa rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari. 4) Seni teater, mencakup keterampilan olah tubuh, olah pikir, dan olah suara yang pementasannya memadukan unsur seni musik, seni tari dan seni peran, dan 5) Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills) yang meliputi keterampilan personal, keterampilan sosial, keterampilan vokasional dan keterampilan akademik

Kegiatan seni merupakan pengekspresian cita rasa, ide, jiwa, emosi dan perasaan yang diluapkan melalui kreativitas manusia menjadi satu karya yang dapat dikatakan unik, indah dan simbolis. Kesenian dapat mengolah kecerdasan emosi seorang anak, karena memberi “kebebasan” berekspresi, berekplorasi, berkreasi dan berapresiasi melalui kegiatan visual. Suryahadi (2008) menyatakan bahwa ilmuan neurophychology memetakan otak manusia menjadi dua bagian yang dikenal dengan belahan otak kiri dan belahan otak kanan. Belahan otak kiri maupun belahan otak kanan meiliki fungsi berbeda namun saling berinteraksi dan ketergantungan (interdisipliner). Dengan makna lain, perlu dibangun keseimbangan antara kemampuan akademik dan nonakdemik pada diri siswa.

Era globalisasi menuntut guru untuk selalu kreatif, keluar dari zona “nyaman”, dan berinovasi. Bentuk inovasi pendidikan berupa pengembangan model pembelajaran, media pembelajaran, dan materi pelajaran agar dapat dipahami peserta didik dengan lebih mudah. Seperti halnya pendidikan seni, saat belajar menggambar siswa tidaklah harus bekerja secara individual melainkan dapat juga secara berkelompok. Tahapan menggambar secara berkelompok harus jelas. Tahapan ini meliputi: pemilihan ketua kelompok, kesepakatan tema gambar, pembuatan sketsa, pemilihan warna, dan finishing karya. Dengan menggambar berkelompok terjadi interaksi yang menghargai perbedaan, menumbuhkan rasa untuk saling memiliki karya, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Bentuk-bentuk kecerdasan emosi ini harus terus dilatih dan diberdayakan pada diri siswa. Selain itu, di era digital ini penggunaan komputer dalam pembelajaran seni rupa dapat menjadi inovasi seperti melukis menggunakan aplikasi Paint, Corel Draw, ataupun Photoshop. Selain kegiatan seni rupa, pengembangan kesenian lokal dapat diberikan guru, seperti menganyam, mengulat klangsah, mekidung (seni suara), pantomin, megambel (seni musik).

Kegiatan Makekawin (Seni Suara)

Ngulat Tipat

Menggambar

Membuat ingka (anyaman)
Hasil penelitian Lowenfeld menemukan bahwa kegiatan seni rupa memberikan respon positif pada pribadi anak, antara lain perkembangan emosi, inteletual, persepsi, sosial, estetika, kreatif dan fisik. Anak-anak sekolah dasar merupakan pribadi unik yang memiliki kebutuhan dan kemampuan yang berbeda dengan orang dewasa. Salah satu keunikan anak terletak pada kemampuan mengekspresikan diri. Sesungguhnya anak cenderung memiliki emosi yang lebih kuat daripada orang dewasa. Anak yang memiliki kecerdasan emosional yang kuat akan mampu menciptakan dan mempertahankan hubungan sehat dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri. Dengan memahami pentinya membangun kecerdasan emosi sejak dini, maka akan tercipta generasi emas yang mampu membawa indonesia sebagai bangsa yang cerdas dan berkarakter. Semoga!



Sumber Rujukan:
Warta Pentas, 2 April 2015