Siswa di Tahun Ajaran baru

July 08, 2017

Esok, Senin 10 Juli 2017 sebagai hari pertama sekolah, khususnya di Bali. Memang beberapa daerah di Indonesia memulai Tahun Ajaran 2017/2018 pekan depan (10 Juli 2017). Hari pertama sekolah selalu menjadi hal yang ditunggu bagi kebanyakan siswa baru. Entah itu bagi siswa di pendidikan anak usia dini (PAUD), sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menegah atas. Nampaknya, untuk tingkat SMP dan SMP euforia mengawali diri menjadi siswa di tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak begitu menegangkan. Mereka tidak lagi diantar oleh orangtua hingga ke kelas dan mendapatkan tempat duduk.

Berbeda bagi mereka yang masuk menjadi siswa PAUD ataupun SD. Mengantar anak di hari pertama sekolah pernah digalakkan kembali tahun sebelumnya. Pada kenyataannya, memang benar di hari pertama, sekolah selalu ramai pengenjung. Tak jarang, seorang anak PAUD diantar oleh kedua orang tuanya, mungkin saja oleh kakek/neneknya. Anak-anak usia 4-5 tahun ini mengenakan pakaian yang berwarna cerah, mengenakan topi, baju rompi, memakai cela (laki-laki)/ rok (perempuan), sepatu warna, kaos kaki putih bergambar, dan tidak lupa sebuah tas bergambar kesukaan sang buah hati menghiasi punggung. Anak-anak yang sudah siap sekolah tidak sabar berlari menuju kelasnya. Diraih tangan orangtuanya yang mengisyaratkan “Ayo, cepatlah,”. 

Namun, tak jarang ada pula orang tua harus merayu anaknya yang “ketakutan” memasuki halaman sekolah. Nah, bagi orang tua yang mengalami kondisi ini, sang guru pun tidak bisa tinggal diam. Guru yang melihat biasanya segera mendatangi anak dan menceritakan bahwa di sekolah, sang anak akan diajak bernyanyi, bermain perosotan, ayunan, dan tentunya diberikan makanan/minuman kesukaan. “Tidak ada kegiatan belajar”, seolah-olah seperti itu. Bayangkan saja wajah ibu/bapak guru saat membujuk sang anak tersebut. Saya yakin, beliau akan menebar senyum-senyum mungil. Membujuk anak seperti ini merupakan ajang nyata bagi guru menunjukkan kemampuan profesionalnya.

Bagaimana di Sekolah Dasar? 

Dari segi usia, siswa kelas 1 SD berada pada umur 6-7 tahun. Fase ini anak-anak masih suka bermain. Hal yang nampaknya serupa dengan di PAUD bisa saja terjadi di sekolah dasar. Karena, tidak semua siswa kelas 1 baru pernah mengenyam pendidikan anak usia dini. Mungkin saja karena berbagi faktor, ornag tua langsung menyekolahkan sang bah hati ke SD. Apakah salah? Tentunya tidak, karena program wajib belajar dimulai dari pendidikan dasar, yaitu SD dan SMP. Bahkan, beberapa waktu lalu telah dicanangkan program wajib belajar 12 tahun, artinya anak-anak di Inonesia wajib mengenyam pendidikan dari tingkat SD hingga SMA.
Suasana di depan  ruang kelas 1
Hari pertama sekolah, bisa saja menjadi hari yang cukup memacu adrenalin bagi guru kelas 1 apalagi jika sang guru belum “kaya” pengalaman, kesabaran, dan cerita. Menjadi guru di kelas 1 membutuhkan tenaga ekstra. Karena itu, mengajar bertim (team teaching) cocok diterapkan. Di pagi-pagi buta saat gerbang sekolah dibuka, ada orang tua akan bergegas ikut masuk ke ruang kelas untuk memilih tempat duduk yang strategis dan cocok untuk anaknya.
team teaching
Mungkin ada kesan posisi kursi menentukan prestasi. Jika hal ini terjadi, guru di sekolah tersebut mendapat tugas tambahan lagi. Guru wajib memberikan pemahaman bahwa posisi kursi tidak selalu menentukan prestasi. Tentunya, guru harus menjamin bahwa dia mampu memberikan perhatian penuh terhadap seluruh siswanya di kelas. Saat perkenalan kelas dimulai, masih nampak dongakkan kepala orang tua yang menyaksikan anak-anak mereka di kelas. Beberapa isyarat tangan, anggukkan kepala dikirim orangtua kepada anaknya agar memperhatikan sang guru. Itukah yang terjadi? Ini adalah sebuah opini saja. Bagaimanapun itu, ayo saling meyakini bahwa pemerintah merancang sistem yang membawa pendidikan kearah lebih baik. Semoga!


by
admin www.blajarblajar.com

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »